suryokoco adiprawiro

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘muda’

Konstitusi Baru Kaum Muda

In Gagasan Untuk Indonesia on Desember 21, 2008 at 6:02 am

Kaum Muda Harus Melahirkan Konstitusi dan Narasi Baru

Oleh : Radhar Panca Dahana

Ini tugas. sebuah tugas yang sebenarnya saya merasa letih hanya untuk mengulang-ngulang kembali angka-angka sakti, 10,20,70,80 atau mantra-mantra yang delimistis yaitu Sumpah Pemuda, reformasi, kebangkitan yang sesungguhnya itu hanya menjadi retorik murahan untuk melakolisme kebudyaan kita saja. Kadang-kadang sangat melodramatik hanya untuk mengatakan apa sih semangat itu? Bagaimana semangat itu harus kita bangkitkan kembali, bagaimana supaya Soekarno dan Muh Yamin lahir kembali? Bagaimana caranya agar sumpah pemuda lahir kmbali, anak remaja kan bilang cape deh!

Saya kira, kalau pun mungkin kita mau mengartikulasikan Soekarno di 70 tahun yang lalu kita harus menyadari bukan saja bahwa apa yang dikatakan Soekarno itu masih berlaku sekarang. Masih berlaku sekarang, tetapi keberlakuannya jauh lebih rumit dan jauh lebih dahsyat…dibandingkan itu. Imprealiseme dan Kapitalisme bukan saja makin merajalela, bukan saja membuat kita menjadi korban, tetapi kita sudah menjadi zombie,kalau buat saya. Negeri dan bangsa ini merasa dirinya hidup tetapi sebenarnya secara substansial sudah mati!.

Kita harus membicarakan anak-anak muda berbeda dengan anak muda 30-70 dan 80 tahun yang lalu, yang kondisinya sekarang mengenaskan. Anda tahu Kasus di Indramayu? Seratus orang sudah tidak cukup lagi mencampur alkoholnya dengan abu rokok, dengan spirtus, dengan solar, terus kemudian mencampurkannnya dengan lavender lotion obat nyamuk. Seratus orang itu kemudian langsung masuk rumah sakit, 25 persennya mati seketika. Dan itu berlangsng tidak sekali, berkali-kali. Apa yang terjadi saudara-saudara?

Yang terjadi adalah sebagian dari kita, kita sudah mengalami satu realitas kehidupan dimana rasa mabuk itu sudah tidak cukup buat dia, untuk melupakan dirinya, mabuk dari alkohol biasa itu sudah tidak cukup lagi untuk menjelaskan saiapa dia? Dan “mabuk itu” kurang, sehingga ketika saraf-saraf sudah kebal dan putus karena solar dan abu rokok itu, yang dibutuhkan adalah rasa sakit, supaya tidak lupa dan dia tahu bahwa dia masih ada, dia harus memberikan rasa sakit untuk dirinya sendiri. Itu sama dengan apa yg terjadi pada seorang ibu yang dengan tenang dia menyiram ketiga anaknya dengan minyak tanah lalu dia menyiram dirinya sendiri terus kemudian dia menyulut api, membakar semuanya, membakar hidupnya, membakar harapan-harapannya yang tiada, membakar visinya, membakar mimpinya, membakar kenyataan yang sudah tidak lagi bisa menerima dia dan dia terima, itu realitas. Realitas–relitas yang tidak pernah dipahami oleh siapapun yang menentukan kebijakan ini. kejadian seperti itu tidak pernah menggugah orang-orang yang bertanggung jawab di pemerintahan. Mereka tidak menangis, mereka tidak tersentuh, mereka tidak komentar, kenapa? Begitu mereka berkomentar, mereka bereaksi, mereka tahu bahwa setiap komentar dan reaksi mereka seperti pukulan balik terhadap dirinya sendiri.

Saya hendak mengatakan bahwa pada titik 70 thn setelah pidato Soekarno,yang namanya Kapitalisme dan imprelaisme bukan saja Sudah mengeruk keuntungan, tetapi juga sudah menjelma menjadi kita, dia sudah mengisi tidak hanya celana dalam kita, saku baju kita, apa yang ada di kepala kita, tetapi juga mengisi hati kita, perilaku kita, kita juga menjd bagian dari itu sedikti atau banyak. Siapa yang tidak tersentuh oleh manipulasi-manipulasi, oleh korupsi-korupsi sekecil apapun. Kalau di pidato Soekarno yang menjadi musuh kita adalah yang berkuasa, sehingga pernyataan seperti itu sudah tidak berlaku lagi. Musuh kita barangkali bukan sebuah institusi sperti Soeharto atau Orde Baru tetapi sebuah sitem, sebuah struktur yang telah mengijinkan seseorang untuk berbuat apa saja demi kemaslahatan dirinya sendiri.

Kapitalisme dan impreliame sekarang adalah kapitaliseme yang mengijinkan seseorang yang harusnya mengurus kesejahteraan publik/rakyat negeri ini tapi justru mengurus kesejahteraan sendiri. Seorang yang seharusnya memberi makan atau memberi peluang untuk bangkit dari kemiskinan hanya memberikan Seratus ribu –seratus ribu sebagai BLT dan kemudian memberikan Seratus triliun untuk dirinya dan kemudian menjadi orang terkaya dinegeri ini. Kapitalisme dan imprealisme yang telah membuat kta harus memilih orang-orang yang kemudian menghianati kita, menegeruk duit dari kita, orang-orang itu barang kali lebih durjana ketimbang para penajajah yang dulu diserang oleh Seokarno. Kenapa? Karena di saudara kita sendiri,dia teman kita sendiri, bahkan saudara kandung kita sendiri, dia hisap diri kita!. Ini adalah sebuah sistem yang melahirkan orang-orang yang begitu hebatnya yangg tidak pernah merasa puas dengan kehebatan kekayaannya, lalu menjadi komperador-komperador dan kekuatan dari kekuasaan multi nasional untuk memeras rakyatnya sendiri. Komperador-komperador itu sudah sangat terlalu kaya. Dan kapitalisme, materialisme ada hanya untuk membela meraka, bukan membela anda. Secara sistemik dan secara struktural, kita (atau) sebagaian dari kita dimiskinkan secara sengaja. Wajar kalau Ibu itu(baca diatas-red) kehilangan orientasi, kehilangan visi, kehilangan mimpi, kehilangan masa depan, kehilangan hari ini dan kehilangan diri sendiri, karena dia tidak punya alasn untuk hidup, dia harus mati! Dunia sudah menjadi absurd, tidak memberikan alasan kepada siapapun untuk hidup layak dinegeri ini ketika sistim struktur hanya menginjinkan orang tertentu untuk eksis, semakin kaya, semakin kuasa dan yang lain terlunta-lunta.

Kapitalisme dan materialisme saat ini adalah sebuah sistim yng mengijinkan sekelompok kecil manusia didunia ini tidak lebih dari 0,0001 persen dari masyarakat didunia ini, untuk meiliki kekayaan 515 Triliun Dolar, itu sama dengan 60 kali lipat PDB Amerika Serikat yang teertinggi di dunia, sama dengan 10 kali lipat dari PDB dunia,sama dengan 1000 kali lipat PDB Indonesia. Dan kekuatan kapital itu yang telah menentukan jalannya hidup kita, jalannya di dunia, tidak hanya menentukan apa isi lemari kita, apa isi dompet kita,apa isi pikiran kita,juga menentukan siapa yg menjadi menteri keuangan kita bahkan barangkali menentukan siapa yang akan menjadi presiden kita.

Saya hendak mengtakan bhwa romantisme, melankolisme, dan melodramatik sekarang sudah tdk berlaku lagi, lebih baik tidak diberlakukan lagi karena relaitas yg kita hadapi terlalu keras, terlalu rumit, terlalu sulit. Itu yang membuat kita (kata para psikolog) sebagai disorientasi, bahkan diskualifikasi, suatu keadaan dimana kita sudah tidak bisa lagi menentukan kemana kita akan pergi dan dari mana kita, dan dimana kita berada kita sekarang ini. Siapa orang yang bisa mengatakan How are you? Who am I?, Where am I? siapa saya dan dimana saya dalam posisi koordinat saya ditengah global peta, Atlas dunia?Ndak Ada.

Saya kira generasi muda sekarang barangkali tidak lagi membutuhkan teks-teks yang dihimpun oleh 10,70,80, Soekarno-Hatta dan yang lain-lainnya. Kenapa? Karena realitasnya sudah berubah. Yang dibutuhkan dari kita sekarang ini adalah melakukan konstitusi baru. Bukan sumpah, tapi kita mengkonstitusi. Apa yang kita konstitusi? yang kita konstitusi adalah kenyataan ini. Apa kenyataan ini? Apa kehancuran ini? Apa benar yang menjadi menteri ekonomi atau menteri keuangan itu berkuasa di negeri ini atau bukan modal-modal yang ada disebaliknya? Bukan orang-orang kaya yang menghimpun ratusan triliunan dikantong yang menentukan mereka? Apa sebenarnya presiden dinegeri ini berkuasa untuk seluruh elemen kebangsaan dinegeri ini? Saya percaya Tidak! Dia pun hanya korban. Orang -orang tua itu saya kira sudah tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk memimpin negeri ini lagi.

Untuk itu saudara harus tampil! Untuk itu anak muda harus muncul, dengan satu gagasan baru dengan suatu narasi baru sebuah narasi yang akan menghancurkan narasi-narasi usang, sebuah narasi yang akan memunculkan diri anda sebagai pilihan terbaik dari mereka yang saat ini berkuasa, mereka yang sekarang sudah menikmati kekayaan, kekuasaan begitu lama, mereka yang sudah berusia begitu usang dan seharusnya kembali pulang untuk direbahkan ditanah.

Yang dibutuhkan saat ini tidak hanya sebuah teriakan, tidak hanya sebuah demontrasi, tidak hanya pentas teaterikal di gedung-gedung DPR, yang penting berpikir dengan jernih, berpikir dengan kuat, dalam disiplin yang astetik, untuk menemukan konstitusi baru tentang kenyataan, tentang diri kita sendiri dan tentang kemana kita akan pergi(melangkah-red).

Itulah saudara-saudara peran dari narasi baru pemuda saat ini, sebuah konstitusi pemuda yang harus kita lahirkan, entah bagaiman hasilnya saudara sendiri yang menentukan.

Radhar Panca Dhana adalah Budayawan (Penulis & Penyair) Muda Indonesia. Disampaikan dalam Orasi Kongres Kaum Muda Jawa Barat  “Saatnya Kaum Muda Memimpin!”  Penyelenggara : Forum Aktivis Bandung Selasa, 28 Oktober 2008,Di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House) Bandung, Jawa Barat, Indonesia.